Kamis, 28 Mei 2015

PROPOSAL PENGAJUAN SKRIPSI
RANCANG BANGUN PENGENDALI LAMPU DALAM GEDUNG MENGGUNAKAN USER INTERFACE  DELPHI BERBASIS MIKROKONTROLER










Disusun oleh:
Sugiarti
26110715



JURUSAN/PROGRAM STUDI SISTEM KOMPUTER
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014
LEMBAR PERSETUJUAN

Nama
: Sugiarti
NPM
: 26110715
Kelas
: 4KB03
Judul Tema
: RANCANG BANGUN PENGENDALI LAMPU DALAM GEDUNG

MENGGUNAKAN  USER INTERFACE DELPHI BERBASIS

MIKROKONTROLER


Tanggal Persetujuan
:



Menyetujui,
Ketua Jurusan Sistem Komputer,


(Dr. Nur Sultan Salahuddin)

Kepada :
Yth. Bapak Dr. Nur Sultan Salahuddin
Ketua Jurusan Sistem Komputer
di tempat
Dengan Hormat,
Dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah ini bermaksud mengajukan proposal Skripsi :
Nama
: Sugiarti
NPM
: 26110715
Kelas
: 4KB03
IPK
: Lokal : …. , Ujian Utama = ….  , Rangkuman = …..
SKS
: Lokal : 84, Ujian Utama = 32, Rangkuman = 116
Saya menyatakan bersedia dan sanggup menyelesaikan skripsi saya sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak Universitas Gunadarma apabila proposal skripsi ini disetujui. Sebagai bahan pertimbangan, dengan ini saya lampirkan proposal skripsi saya yang berjudul “RANCANG BANGUN PENGENDALI LAMPU DALAM GEDUNG MENGGUNAKAN USER INTERFACE DELPHI BERBASIS MIKROKONTROLER”.
Demikianlah surat pengajuan proposal skripsi ini saya buat, atas perhatian dan kebijaksanaan Bapak, saya menghaturkan terima kasih.
Depok, 7 Maret 2014
Hormat saya
( Sugiarti )
SURAT KETERANGAN
USULAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI

Sesuai dengan pembicaraan yang telah dilakukan antara saya dengan mahasiswa :
Nama
: Sugiarti
NPM
: 26110715
Kelas
: 4KB03
Judul Tema
: RANCANG BANGUN PENGENDALI LAMPU DALAM GEDUNG

  MENGGUNAKAN USER INTERFACE DELPHI BERBASIS
MIKROKONTROLER

maka dengan ini saya :
Dr. Andini Sintawati
menyatakan bersedia diusulkan menjadi pembimbing skripsi mahasiswa tersebut di atas, apabila mahasiswa tersebut memenuhi syarat untuk menempuh jalur skripsi. Demikian kesediaan ini saya buat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Depok, 7 Maret 2014
Hormat saya,
( Dr. Andini Sintawati )
ABSTRAKSI

Perusahaan memiliki bangunan yang besar dan banyaknya ruangan yang digunakan dalam aktivitas operasional perusahaan. Dalam menjalankan aktivitasnya seluruh ruangan membutuhkan penerangan yang cukup. Untuk memudahkan pekerja supaya tidak menyalakan lampu secara satu per satu disetiap lantai dalam gedung, perlu dibuat suatu alat pengendali lampu. Alat pengendali ini bekerja dengan cara user interface mengaktifkan  lampu dengan menggunakan program delphi, dan mikrokontroler sebagai tempat pemprosesan, sedangkan output yang dikeluarkan adalah LED (Light Emitting Diode) berfungsi untuk mengaktifkan cahaya. Berdasarkan hasil pengujian alat, diketahui bahwa alat ini bekerja sesuai dengan rancangan yang dibuat. Dengan memanfaatkan komputer dan mikrokontroler untuk memperkecil sebuah pekerjaan, sehingga melakukan pengendalian terpusat kepada sebuah alat dengan menggunakan penggontrolan kelistrikan lampu menggunakan komputer.

1.      Latar Belakang
Perusahaan memiliki bangunan yang besar dan banyaknya ruangan yang digunakan dalam aktivitas operasional perusahaan. Dalam menjalankan aktivitasnya seluruh ruangan membutuhkan penerangan yang cukup. Maka dibutuhkan suatu sistem yang dapat memberikan kemudahan dalam mengendalikan kelistrikan alat penerangan pada tiap ruangan di suatu gedung. Dimana sistem kelistrikan alat penerangan akan dikendalikan melalui komputer dengan mikrokontroler.
Untuk memudahkan pekerja supaya tidak menyalakan lampu secara satu per satu disetiap lantai dalam gedung, perlu dibuat suatu alat pengendali lampu. Alat pengendali ini bekerja dengan cara user interface mengaktifkan  lampu dengan menggunakan program delphi. Alat pengendali ini akan mengeluarkan output berupa led yang akan menerangkan ruangan dalam gedung. Dengan adanya alat ini, diharapkan dapat membantu pekerja dalam memudahkan pekerjaannya. Penulis akan menjelaskannya secara mendetail di dalam penulisan yang berjudul "RANCANG BANGUN PENGENDALI LAMPU DALAM GEDUNG MENGUNAKAN USER INTERFACE DELPHI BERBASIS MIKROKONTROLER”.
2.      Rumusan Masalah
Permasalahan penulisan ini dibatasi pada hal-hal seperti cara kerja alat pengendali lampu mulai dari user interface delphi sebagai input, mikrokontroler sebagai tempat pemprosesan, dan led menjadi output.

  1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini dapat merancang sebuah sistem yang dimana sistem kelistrikan alat penerangan akan dikendalikan melalui komputer dengan mikrokontroler, sehingga user interface dapat melakukan pengendalian kelistrikan lampu dengan mudah.

  1. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka pada penelitian mengambil referensi dari buku-buku serta mencari referensi lain yang dianggap bisa dijadikan acuan penelitian ini seperti situs internet dan berkonsultasi dengan narasumber yang lebih berpengalaman.
5.      Metode Penelitian
Adapun penyusun melakukan beberapa penelitian yang dilakukan dengan:
a.       Studi Pustaka (Literatur)
Yaitu mengambil beberapa data yang berasal dari berbagai sumber seperti buku dan internet dimana isi dari sumber-sumber tersebut dijadikan referensi dan acuan dalam penulisan ilmiah ini.
b.      Analisa Kebutuhan 
Yaitu melakukan analisa komponen apa sajahkah yang dibutuhkan untuk membuat alat tersebut.
c.       Perancangan
  Yaitu merancang skematika alat, dengan mendisain bagaimana dan seperti  apakah bentuk alat yang akan di buat.
d.      Pembuatan
Yaitu melakukan pembuatan alat dari bahan-bahan yang telah dikumpulkan menjadi sebuah alat sampai dengan program yang digunakan.
e.      Pengujian.
Yaitu cara mengetahui masing-masing jalan kerja dari rangkaian alat yang digunakan agar tidak terjadi kesalahan.
6.      Rencana Kerja dan Jadwal Kerja Penelitian
Kegiatan
Bulan ke-
1
2
3
4
5
6
Studi Pustaka






Peancangan alat






Pembuatan alat






Pembuatan Program






Pengujian Alat






Pembuatan Laporan







7.      Daftar Pustaka
[1]     Anonim, Modul Praktikum Interface, Laboratorium Elektronika dan Komputer Universitas Gunadarma, Depok, 2013.
[2]     Lingga Wardhana, Belajar Sendiri Mikrokontroler AVR Seri ATmega8535 Simulasi, Hardware, dan Aplikasi, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006.
[3]     Aulia Rahman, Rancang Bangun Prototipe Aplikasi Pengendali Lampu Dalam Gedung Berbasis Mikrokontroler, diakses pada 7 Maret 2014, http://www.academia.edu/5030866/SLIDE_TA#

Lampiran :

a.    Daftar Nilai Lokal dari Studentsite
b.   Daftar Nilai Ujian Utama dari Studentsite
c.  Daftar Nilai Rangkuman dari Studentsite


 https://noshagustinugraha.wordpress.com/2013/11/26/contoh-proposal-pengajuan-skripsi/

Minggu, 19 April 2015

             RAGAM BAHASA

Ragam Bahasa
Ragam Bahasa merupakan variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980).

Ragam bahasa berdasarkan media atau sarana

1.Ragam bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.

2. Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide


Jenis Ragam Bahasa
Berdasarkan pokok pembicaraan, ragam bahasa dibedakan antara lain atas:
·         Ragam bahasa undang-undang
·         Ragam bahasa jurnalistik
·         Ragam bahasa ilmiah
·         Ragam bahasa sastra
Berdasarkan media pembicaraan, ragam bahasa dibedakan atas:
1.     Ragam lisan yang antara lain meliputi:
·         Ragam bahasa cakapan
·         Ragam bahasa pidato
·         Ragam bahasa kuliah
·         Ragam bahasa panggung
2.     Ragam tulis yang antara lain meliputi:
·         Ragam bahasa teknis
·         Ragam bahasa undang-undang
·         Ragam bahasa catatan
·         Ragam bahasa surat
Ragam bahasa menurut hubungan antarpembiacra dibedakan menurut akrab tidaknya pembicara
·       Ragam bahasa resmi
·       Ragam bahasa akrab
·       Ragam bahasa agak resmi
·       Ragam bahasa santai
·       dan sebagainya
Fungsi

Di dalam kehidupan sehari – hari kita sebagai mahklukh hidup tidak bisa hidup sendiri,maka manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia perlu berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui, maka interaksi itu terasa semakin penting. Kegiatan berinteraksi ini membutuhkan alat, sarana atau media, yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa menjadi alat, sarana atau media. Bentuk dasar bahasa adalah ujaran. Ujaranlah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Bahasa bisa di bilang sarana komunikasi mencakup aspek bunyi dan makna Sistematik karena bahasa memiliki pola dan kaidah yang harus ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya Mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar Ujar , karena bentuk dasar bahasa Manusiawi, karena dimanfaatkan manusia.
Bahasa Indonesia dalam kehidupan kita sehari hari mempunyai fungsi atau kegunaan, di antara nya sebagai berikut:
Sebagai informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal-balik antar anggota keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat.
Sebagai ekspresi diri, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan,emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembaca.
Untuk adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat, melalui bahasa seorang anggota masyarakat sedikit demi sedikit belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup, perilaku, dan etika masyarakatnya sebagai kontrol sosial. Selain itu bahasa juga mempunyai fungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain.
Kemudian Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi :
Fungsi instrumental yaitu bahasa digunakan untuk memperoleh sesuatu.
Fungsi regulatoris yaitu bahasa digunakan untuk mengendalikan prilaku orang lain.
Fungsi intraksional yaitu bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Fungsi personal yaitu bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Fungsi heuristik yaitu bahasa dapat digunakan untuk belajar dan menemukan sesuatu.
Fungsi imajinatif yaitu bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan dunia imajinasi.
Fungsi representasional yaitu bahasa difungsikan untuk menyampaikan informasi.
Di dalam bernegara peranan dan fungsi bahasa Indonesia sangat vital diantaranya sebagai bahasa resmi kenegaraan. Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah di bidang kebudayan mempunyai fungsi Alat pengembangan kebudayaan.
Fungsi bahasa indonesia sebagai bahasa baku :
·         Fungsi Pemersatu, artinya bahasa Indonesia mempersatukan suku bangsa yang berlatar budaya dan bahasa yang berbeda-beda
·         Fungsi pemberi kekhasan, artinya bahasa baku memperbedakan bahasa itu dengan bahasa yang lain
·         Fungsi penambah kewibawaan, penggunaan bahasa baku akan menambah kewibawaan atau prestise.
·         Fungsi sebagai kerangka acuan, mengandung maksud bahwa bahasa baku merupakan kerangka acuan pemakaian bahasa



SUMBER




Minggu, 29 Maret 2015

Oleh Kania Yuliasari

Kamu hadir membawa warna baru
Kamu obati luka ku tentang masa lalu
Kamu mampu mngubah kehidupanku
Jauh lebih baik dari kehidupan yang lalu

Kamu manusia sederhana yang mampu memberikan cinta yang luar biasa
Cinta yang tak mampu di ungkapkan oleh kata kata
Mendengar apa yg tidak dikatakan
Mengerti apa yang tidak di jelaskan

Terimakasih cinta....
Atas segala hal yang kamu berikan
Cinta tulus dan juga pengajaran tentang berbagai hal
Kamu telah mengajarkan apa itu menghargai, menerima, bersyukur, ikhlas dan mandiri
Kini ku mampu berdiri sendri dengan tenang melewati semua permasalahan pribadi
Dan kini aku telah mengerti apa itu hidup dan juga cinta sejati

Berharap setiap mimpi akan mnjdi nyata
Hidup bahagia bersama selamanya
Semoga rasa antara kita takkan pernah pudar bersama sang waktu
Sehingga Tiada celah bagi cinta yang lainnya

Kau yang kini tertawa
Bermandikan harta
Berkawankan kemewahan
Dari mana kau dapatkan semuanya?

Dari pohon yang kau tebang
Dari hewan yang kau bunuh
Dari tanah yang kian tandus
Dari air yang kian kering
Dari sungai yang kian kerontang
Dari hutan yang kau jadikan kebakaran
Dari asap tebal pohon yang di bakar

Apakah kau tak ingat
Masih ada anak cucu kita
Yang mengharap udara segar
Mengharap kesejukan alam
Mengharap Keindahan dunia
Mengharap hijaunya daun
Mengharap rindanya pepohonan

Tidak kaah kau sadar, 
Ada banyak nyawa yang kau ambil
Ada banyak harapan yang kau renggut
Wahai para perusak alam
Ingatlah pada hukum alam
Kita butuh alam yang indah
Kita butuh alam yang sejuk
Kita hidup dalam alam
Dan kita bergantung pada alam

Jagalah alam
seperti kau menjaga rumahmu sendiri
Karena alam kita
adalah
alam anak cucu kita

Rabu, 25 Maret 2015

PENALARAN DEDUKTIF
 













ANGGOTA KELOMPOK :
ACHMAD ZULFIE A (10112095)
FAJAR RAHMANTYO (12112725)
YOGA ANGGORO (1711216)
YUNIAS WAHYU P (17112963)

UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK



Penalaran Deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional,instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahuluharus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian dilapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakankata kunci untuk memahami suatu gejala.
Hukum-hukum Silogisme :
a.     Prinsip-prinsip Silogisme kategoris mengenai term:
1.    Jumlah term tidak boleh kurang atau lebih dari tiga
2.    Term menengah tidak boleh terdapat dalam kesimpulan
3.    Term subyek dan term predikat dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas daripada                                   dalam premis.
4.    Luas term menengah sekurang-kurangnya satu kali universal.
b.    Prinsip-prinsip silogisme kategoris mengenai proposisi:
1.    Jika kedua premis afirmatif, maka kesimpulan harus afirmatif juga.
2.    Kedua premis tidak boleh sama-sama negatif.
3.    Jika salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga (mengikuti proposisi yang paling lemah)
4.    Salah satu premis harus universal, tidak boleh keduanya pertikular.

Bentuk Silogisme Menyimpang :

Dalam praktek penalaran tidak semua silogisme menggunakan bentuk standar, bahkan lebih banyak menggunakan bentuk yang menyimpang. Bentuk penyimpangan ini ada bermacam-macam. Dalam logika, bentuk-bentuk menyimpang itu harus dikembalikan dalam bentuk standar.
Contoh:
“Mereka yang akan dipecat semuanya adalah orang yang bekerja tidak disiplin. Kamu kan bekerja penuh disiplin. Tak usah takut akan dipecat”.
Bentuk standar:
“Semua orang yang bekerja disiplin bukanlah orang yang akan dipecat.
Kamu adalah orang yang bekerja disiplin.
Kamu bukanlah orang yang akan dipecat”.
Contoh : yaitu sebuah sistem generalisasi.
Laptop adalah barang eletronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi, DVD Player adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.
Generalisasi : semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.
Pengertian Premis Mayor dan Premis Minor

Premis mayor adalah pernyataan umum, sementara premis minor artinya pernyataan khusus. Proses itu dikenal dengan istilah silogisme. Silogisme merupakan proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi). Misalnya : “Semua orang akhirnya akan mati” (premis mayor). Hasan adalah orang (premis minor). Oleh karena itu, “Hasan akhirnya juga akan mati” (kesimpulan). Jadi, berfikir deduktif adalah berfikir dari yang umum ke yang khusus. Dari yang abstrak ke yang konkrit. Dari teori ke fakta-fakta.
Jenis Penalaran Deduktif

Jenis penalaran deduktif yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu:
1. Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya Menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.
Contoh :
Premis Mayor : Tidak ada manusia yang abadi
Premis Minor : Socrates adalah manusia
Kesimpulan : Socrates tidak abadi
Kaedah- kaedah dalam silogisme kategorial adalah :
1. Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
2. Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan
3. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negative.
5. Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
6. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7. Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
8. Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
2. Silogisme Hipotesis : Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Menurut Parera (1991: 131) Silogisme hipotesis terdiri atas premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Akan tetapi premis mayor bersifat hipotesis atau pengadaian dengan jika … konklusi tertentu itu terjadi, maka kondisi yang lain akan menyusul terjadi. Premis minor menyatakan kondisi pertama terjadi atau tidak terjadi. Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotesis:
1. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:
Jika hujan, saya naik becak.
Sekarang hujan.
Jadi saya naik becak.
2. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya, seperti:
Bila hujan, bumi akan basah.
Sekarang bumi telah basah.
Jadi hujan telah turun.
3. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka
kegelisahan akan timbul. Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa, Jadi kegelisahan tidak akan timbul. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah. Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.
Kaedah- kaedah Silogisme Hipotesis

• Mengambil konklusi dari silogisme hipotesis jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting di sini adalah menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hukum silogisme hipotetik adalah:
1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana
Contoh :
a) Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal
Premis Minor: Hujan tidak turun
Konklusi : Sebab itu panen akan gagal.
b) Premis Mayor : Jika tidak ada air, manusia akan kehausan.
Premis Minor : Air tidak ada.
Kesimpulan : Manusia akan kehausan.
3. Silogisme Akternatif : silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain. Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya. Konklusi tergantung dari premis minornya.
Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif, seperti:
la lulus atau tidak lulus.
Ternyata ia lulus
Jadi, la bukan tidak lulus
Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan kontradiktif, seperti:
Xsa di rumah atau di pasar.
Ternyata tidak di rumah.
Jadi, di pasar
Silogisme disjungtif dalam arti sempit maupun arti iuas mempunyai dua tipe yaitu:
1. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain.
2. Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain.
Kaedah-kaedah silogisme alternatif :
1. Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid
2. Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:
a. Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar)
Contoh :
Rizki menjadi guru atau pelaut.
la adalah guru.
Jadi bukan pelaut
Rizki menjadi guru atau pelaut.
la adalah pelaut.
Jadi bukan guru
b. Bila premis minor mengingkari salah satu a konklusinya tidak sah (salah)
Contoh :
Penjahat itu lari ke Surabaya atau ke Yogya.
Ternyata tidak lari ke Yogya.
Jadi ia lari ke Surabaya. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).
Rifki menjadi guru atau pelaut.
Ternyata ia bukan pelaut.
Jadi ia guru. (Bisa jadi ia seorang pedagang)
Contoh :
Premis Mayor : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Premis Minor : Nenek Sumi berada di Bandung.
Kesimpulan : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

4. Entimen :
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun tulisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.
Entimen atau Enthymeme berasal dari bahasa Yunani “en” artinya di dalam dan “thymos” artinya pikiran adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan dalam sebuah entimem, penghilangan bagian dari argumen karena diasumsikan dalam penggunaan yang lebih luas, istilah “enthymeme” kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan argumen yang tidak lengkap dari bentuk selain silogisme.
Menurut Aristoteles yang ditulis dalam Retorika, sebuah “retorik silogisme” adalah bertujuan untuk pembujukan yang berdasarkan kemungkinan komunikan berpendapat sedangkan teknik bertujuan untuk pada demonstrasi. Kata lainnya, entimem merupakan silogisme yang diperpendek.
Contoh :
Rumus Entimen:
PU : Semua A = B : Pegawai yang baik tidak pernah datang terlambat.
PK : Nyoman pegawai yang baik.
S : Nyoman tidak pernah datang terlambat
Entimen : Nyoman tidak pernah datang terlambat karena ia pegawai yang baik
Beberapa ciri utama dari penalaran deduktif, yaitu :
1. Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar
2. Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis.




Pengikut